Tanya jawab pun saya ubah.
Sebelumnya, saya cenderung memberikan pertanyaan yang langsung mengarah pada jawaban tertentu. Kini saya berusaha memberikan pertanyaan sederhana dan terbuka yang memungkinkan murid menghubungkan materi dengan pengalaman mereka.
Misalnya, daripada hanya bertanya, “Apa jawabannya?” saya mulai bertanya, “Menurut kalian, mengapa hal itu bisa terjadi?” atau “Bagaimana cara kalian menemukan jawabannya?”
Perubahan pertanyaan ternyata mengubah respons murid.
Mereka tidak hanya mencari jawaban benar, tetapi mulai belajar menjelaskan alasan di balik jawabannya.
Membangun Keberanian Sebelum Menuntut Kemampuan
Salah satu persoalan yang saya temukan adalah rendahnya keberanian murid untuk berbicara.
Saya menyadari bahwa sebagian murid sebenarnya memiliki gagasan, tetapi takut salah ketika harus menyampaikannya di depan teman-teman. Karena itu, saya mulai mengubah cara memberikan apresiasi.
Saya tidak hanya memuji murid yang memberikan jawaban benar. Saya juga memberikan penghargaan kepada murid yang berani mencoba, bertanya, menjawab, atau menyampaikan pendapat meskipun jawabannya belum sempurna. Bagi saya, keberanian untuk mencoba merupakan bagian penting dari proses belajar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








