Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Ketika Matematika Tak Lagi Menakutkan: Pengalaman Mengajar di Sekolah 3T

Kontributor : Venti Sipa Editor: Redaksi
56e0b2b7 7bdc 43cc 8b53 b065966696b7

Di akhir pembelajaran, peserta didik diminta menuliskan refleksi sederhana mengenai satu hal yang paling mereka pahami dan satu hal yang masih membingungkan. Melalui cara ini, guru dapat mengetahui kesulitan belajar peserta didik secara lebih jujur dan mendalam tanpa membuat mereka merasa malu.

Perubahan yang terjadi setelah berbagai strategi tersebut diterapkan cukup menggembirakan. Kecemasan peserta didik terhadap matematika mulai berkurang. Mereka tidak lagi terlihat tegang ketika jam pelajaran matematika dimulai. Kepercayaan diri meningkat, terlihat dari keberanian mereka mencoba menyelesaikan soal secara mandiri dan aktif bertanya ketika mengalami kesulitan.

Diskusi kelompok menjadi lebih hidup, interaksi antara guru dan peserta didik semakin terbuka, dan suasana kelas terasa lebih menyenangkan. Bahkan beberapa peserta didik yang sebelumnya pasif mulai menunjukkan minat untuk mengikuti berbagai kegiatan akademik yang berkaitan dengan matematika.

Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga oleh suasana emosional yang dibangun di dalam kelas. Kecemasan merupakan salah satu musuh terbesar dalam proses belajar. Peserta didik tidak akan mampu menyerap pengetahuan secara optimal jika mereka merasa takut, tertekan, atau khawatir akan kesalahan.

Baca Juga :  Dari Pendidikan Hingga Swasembada Air: Kupang Rumuskan Delapan Asa Pembangunan Inklusif
  • Bagikan