Kritis Menimbang Kekuatan Para Calon Gubernur NTT

Editor: Pius Rengka
IMG 20240424 161408

Pengalaman Orias nyaris mirip dengan Frans Go, pengusaha sukses. Dia ditaksir PKB. Fransiscus Go, lahir di Kefamenanu, NTT, 8 Agustus 1968. Dia menghabiskan masa kecil dan remaja di NTT, tempat ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di SMA Negeri 1 Kupang. Demi memburu mimpi lebih tinggi, Frans Go merantau ke Yogyakarta untuk kuliah. Tahun 1987, ia kuliah di Fakultas Teknik Sipil Universitas Atma Jaya dan di Fakultas Hukum jurusan Hukum Bisnis di Universitas Gadjah Mada. Frans aktif berkontribusi dalam Kamar Dagang Industri (KADIN) Indonesia, menjabat di Komite Tetap Pemberdayaan Tenaga Kerja Luar Negeri (TKNL). Demi membantu kaum lemah, ia mendirikan GMT Property Management, perusahaan pengelolaan properti dengan layanan yang meliputi Home Care Unit, Building Care Unit, Institute of Property Management, GMT Technology, dan GMT Commercial. Kantor pusatnya di Jl. Kendal No. 1 Menteng, Jakarta Pusat. Fransiscus Go juga pelopor pemberdayaan sosial, di NTT. Ia aktif mengembangkan infrastruktur pendidikan di NTT. Ia pun menjadi inisiator dan penyokong utama gerakan BAJAGA (Baku Jaga), sebuah inisiatif solidaritas dan gotong royong. Gerakan ini mengundang semua warga NTT untuk bergandengan tangan dalam membantu, menolong, dan melindungi satu sama lain, dengan fokus pada kelompok rentan yang sering menjadi korban human trafficking atau perdagangan manusia di luar negeri. Gerakan BAJAGA tumbuh dan berkembang, menjadi gerakan yang luas diikuti warga NTT, terutama para pemuda yang memiliki visi serupa tentang masa depan NTT yang lebih baik dan berkeadaban. Inisiatif ini tidak hanya mencerminkan kepedulian Frans terhadap tanah kelahirannya, tetapi juga menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan dan martabat umat manusia.

  • Bagikan
Exit mobile version