Mendidik Hati, Bukan Sekadar Mengisi Pikiran
Oleh : Sosten Y. M. Kase, M. Pd. (Guru Agama Kristen SMP Negeri Tumu – TTS)
SNC – Di tengah berbagai tantangan pendidikan saat ini, sekolah tidak hanya dituntut melahirkan siswa berprestasi, tetapi juga pribadi yang memiliki karakter dan kepedulian sosial. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa nilai empati dan semangat saling menolong perlahan memudar, bahkan di lingkungan sekolah.
Sebagai guru Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri Tumu, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, saya menyaksikan langsung gejala tersebut. Tidak sedikit siswa yang mulai bersikap individualis. Mereka yang memiliki kemampuan akademik lebih baik atau fasilitas yang lebih memadai cenderung berjalan sendiri, sementara teman-teman yang mengalami kesulitan belajar atau keterbatasan ekonomi tertinggal tanpa dukungan.
Situasi ini menciptakan sekat-sekat sosial di ruang kelas. Siswa yang merasa kurang mampu sering menjadi pendiam, minder, bahkan menarik diri dari pergaulan. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh bersama justru terasa seperti arena persaingan yang dingin. Jika kondisi ini dibiarkan, pendidikan berisiko kehilangan rohnya. Kita mungkin berhasil mencetak anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi miskin kepekaan sosial.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








