Siswa datang tidak hanya untuk membaca, tetapi juga untuk meninggalkan jejak, seperti; puisi, cerita pendek, dan tulisan reflektif mereka dipajang sebagai bagian dari perjalanan belajar. Aktivitas ini memberi pesan kuat bahwa membaca dan menulis bukan sekadar tugas, melainkan cara memahami dunia.
Kebiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai menjadi ritual kecil yang pelan namun pasti membentuk karakter. Dari halaman ke halaman, cakrawala berpikir mereka meluas.
Literasi di Tengah Keterbatasan Teknologi
Di daerah yang konektivitas internetnya belum stabil, inovasi menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Melalui program GELIGIT (Gerakan Literasi Digital), sekolah memanfaatkan perangkat yang tersedia ; Chromebook, iPad, dan komputer dengan sistem server lokal agar siswa tetap dapat mengakses bahan ajar dan video pembelajaran tanpa bergantung pada jaringan internet.
Di tengah keterbatasan, teknologi justru menjadi jembatan, bukan hambatan.
Kolaborasi yang Menguatkan
Perjalanan ini tidak ditempuh sendiri. Dukungan berbagai komunitas literasi dan mitra seperti Yaspensi, Forum TBM, dan Nyalanesia membuka ruang baru bagi siswa dan guru untuk belajar menulis, berkarya, dan percaya diri mengekspresikan gagasan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
