Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi pola belajar murid, tetapi juga memengaruhi pembentukan karakter mereka. Arus informasi yang begitu cepat sering kali membuat murid menyerap berbagai perilaku dari dunia maya tanpa proses penyaringan yang memadai. Mereka dapat meniru gaya komunikasi yang kurang santun, mudah terlibat dalam konflik verbal, bahkan perlahan kehilangan sensitivitas terhadap lingkungan sekitar. Jika tidak disikapi secara bijaksana, kondisi ini dapat menghambat proses pembentukan karakter yang menjadi tujuan utama pendidikan.
Padahal, nilai utama yang diajarkan dalam iman Kristen adalah kasih. Kasih bukan sekadar konsep yang dihafalkan dalam ruang kelas, melainkan tindakan nyata yang diwujudkan melalui sikap menghormati orang lain, peduli terhadap sesama, bertanggung jawab, serta mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi. Ketika murid mengalami kesulitan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam pergaulan sehari-hari, maka pendidikan karakter yang diberikan di sekolah belum sepenuhnya mencapai tujuan yang diharapkan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









