Dari proses tersebut, saya menemukan bahwa sebagian murid menghadapi persoalan keluarga, keterbatasan ekonomi, kurangnya perhatian orang tua, hingga rendahnya rasa percaya diri. Ada murid yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi kehilangan motivasi karena merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari lingkungan sekitarnya. Ada pula yang menggunakan media sosial sebagai pelarian dari berbagai tekanan yang mereka alami.
Melalui dialog yang terbuka dan penuh empati, saya berusaha memberikan penguatan spiritual serta membantu mereka melihat kembali nilai-nilai Kristiani yang selama ini dipelajari. Saya mengajak mereka memahami bahwa setiap individu memiliki nilai yang berharga di hadapan Tuhan dan memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam beberapa kesempatan, saya juga mendoakan mereka secara khusus agar mereka merasakan kasih Tuhan dalam kehidupan mereka.
Perubahan memang tidak terjadi secara instan. Namun, sedikit demi sedikit hasil positif mulai terlihat. Murid yang sebelumnya sering tertidur saat pelajaran mulai menunjukkan perhatian yang lebih baik terhadap proses pembelajaran. Mereka menjadi lebih aktif dalam diskusi kelas, lebih menghargai guru dan teman-temannya, serta mulai menunjukkan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Interaksi antarmurid juga menjadi lebih harmonis karena mereka mulai memahami pentingnya menghargai dan menerima perbedaan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
