Pengalaman ini mengajarkan kepada saya bahwa pendidikan karakter tidak dapat dibangun hanya melalui ceramah atau penyampaian materi di dalam kelas. Pendidikan karakter membutuhkan relasi yang kuat antara guru dan murid. Ketika murid merasa didengar, dipahami, dan dihargai, mereka akan lebih mudah menerima nilai-nilai yang diajarkan serta termotivasi untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru tidak lagi sebatas penyampai informasi. Guru harus mampu menjadi pembimbing, sahabat, konselor, sekaligus teladan bagi murid. Tantangan yang dihadapi memang semakin kompleks, tetapi nilai kasih yang menjadi inti ajaran Kristiani tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul di era modern.
Mengajarkan kasih di era media sosial bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan komitmen yang kuat dari guru, orang tua, gereja, serta masyarakat. Pendidikan karakter bukanlah tanggung jawab satu pihak semata, melainkan tanggung jawab bersama untuk menyiapkan generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
