Anak yang Belum Bisa Membaca Tidak Boleh Disebut Malas
Pengalaman saya sebagai pendidik juga mengajarkan bahwa persoalan pembelajaran tidak pernah sesederhana yang terlihat. Saya pernah berhadapan dengan anak yang sudah berada di kelas tinggi, tetapi masih mengalami kesulitan membaca. Pertanyaan pertama yang muncul mungkin, “Mengapa anak ini belum bisa membaca?”
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa sampai sekarang ia belum mendapatkan kemampuan membaca yang seharusnya?Pertanyaan itu mengubah cara kita melihat anak.
Sebagian anak mungkin tidak mendapatkan pendampingan yang cukup di rumah. Orang tua bekerja di kebun, mencari nafkah sebagai pekerja harian, atau memiliki keterbatasan pengetahuan untuk membantu anak belajar. Setelah pulang sekolah, tidak selalu ada orang yang dapat menemani mereka membaca atau mengulang pelajaran. Karena itu, saya merasa tidak adil jika anak langsung diberi label “malas” atau “tidak mampu”.
Guru harus mencari akar persoalannya
Saya kemudian melihat bahwa anak tersebut sebenarnya ingin belajar. Ia hanya sering merasa malu karena teman-temannya sudah mampu membaca, sedangkan dirinya masih tertinggal. Di sinilah guru harus hadir bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menguatkan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
