Ia menoleh, tersenyum tipis. “Hay juga.”
Namanya Rahayu. Tapi ia lebih suka dipanggil Ayu.
Percakapan kami mengalir begitu saja, seperti laut malam yang tampak tenang di permukaan, tetapi menyimpan banyak hal di dalamnya. Ia bercerita tentang perjalanan hidupnya, tentang kehilangan, tentang pilihan yang tak selalu mudah, tentang seseorang yang pernah ia tunggu, tetapi tak pernah benar-benar kembali.
Aku lebih banyak mendengar.
Hingga tiba-tiba ia bertanya, “Menurutmu, apa arti merindu?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi entah kenapa terasa berat. Aku terdiam. Bukan karena tak punya jawaban, tapi karena terlalu banyak kemungkinan untuk dijelaskan.
Sebelum sempat kujawab, ia kembali bertanya, kali ini dengan suara yang lebih pelan.
“Pernahkah rindumu tidak dihargai?”
Angin malam berhembus lebih dingin. Aku masih diam.
Dalam tatapannya, ada sesuatu yang tak terucap, luka yang belum selesai, atau mungkin harapan yang perlahan pudar. Senyumnya tetap ada, tapi matanya bercerita lain.
Waktu berjalan tanpa kami sadari. Percakapan yang awalnya ringan berubah menjadi ruang sunyi yang penuh makna. Dan tanpa kusadari, Ayu tertidur, kepalanya bersandar di pangkuanku.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
