Selain memperkenalkan skema yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman, tahun ini Kemdiktisaintek juga melakukan penyempurnaan sistem seleksi melalui penerapan Tes Bakat Skolastik (TBS). Instrumen baru tersebut dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah secara lebih objektif.
Plt. Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi, Prof. Sandro Mihradi, menegaskan bahwa pendidikan doktoral bukan sekadar melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Program doktor menuntut kemampuan akademik yang kuat, kedisiplinan tinggi, serta kapasitas berpikir yang matang untuk menghasilkan penelitian yang memberikan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Karena itu, penerapan TBS dapat dipahami sebagai upaya meningkatkan kualitas penerima beasiswa. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap dosen yang memperoleh dukungan negara benar-benar memiliki kesiapan untuk menyelesaikan studi tepat waktu dan menghasilkan karya akademik yang berkualitas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
