Menurutnya, keinginan mendirikan PAUD berawal ketika dirinya melihat banyak anak-anak di wilayah tersebut harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan layanan pendidikan.
Kondisi itu kemudian menggerakkan dirinya untuk menghadirkan PAUD di tengah masyarakat. “Saya melihat banyak anak-anak yang harus berjalan jauh. Dari situ saya terpanggil untuk membangun PAUD demi melayani anak-anak yang ada,” ungkap Tresia.
Bagi Tresia, keterbatasan gedung tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti melayani anak-anak yang telah dipercayakan orang tua kepada mereka.
Ia mengakui, mengajar di gedung darurat memiliki tantangan tersendiri. Namun, dirinya tetap bertahan karena pendidikan anak-anak harus terus berjalan. “Perjuangan mengajar di gedung darurat memang memiliki tantangan tersendiri. Tetapi saya bersyukur, setelah beberapa tahun berjuang akhirnya kami mendapat bantuan revitalisasi,” katanya.
Revitalisasi Jadi Harapan Baru
Bagi pengelola, bantuan senilai hampir Rp188 juta tersebut bukan hanya pembangunan fisik. Ada harapan baru untuk memberikan layanan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
