Dari Absen Digital hingga Gerakan Menulis Esai, Apris Manafe Berupaya Mengubah Wajah Pendidikan di TTS

Kontributor : L.A Editor: Redaksi
IMG 20260704 WA0012

“Biasanya beliau baru berangkat sekitar pukul delapan, bahkan kadang lebih,” kenangnya sambil tersenyum.

Namun kini suasana itu berubah total.

Sejak absensi digital diterapkan, hampir tidak pernah lagi ia bertemu tetangganya pada pagi hari.

“Sekarang kami justru baru bisa bertemu sore hari. Pagi-pagi beliau sudah lebih dulu berangkat ke sekolah,” katanya.

Cerita menarik lainnya datang dari seorang kepala sekolah dasar yang identitasnya juga disamarkan.

Pada awal penerapan absensi digital, ia begitu bersemangat berangkat lebih pagi agar tidak terlambat. Namun sesampainya di sekolah, ia baru menyadari telepon genggam Android yang digunakan untuk melakukan absensi ternyata tertinggal di rumah.

Mau tidak mau, ia harus kembali pulang mengambil telepon genggam tersebut.

Akibatnya, justru pada hari itu ia terlambat melakukan absensi digital.

Peristiwa tersebut kini menjadi bahan candaan di kalangan rekan-rekannya.

“Sejak kejadian itu saya selalu memastikan dua hal sebelum berangkat, yaitu kunci kendaraan dan telepon genggam. Jangan sampai semangat disiplin, tetapi lupa membawa alat untuk absen,” ujarnya sambil tertawa.

  • Bagikan
Exit mobile version