Dari Absen Digital hingga Gerakan Menulis Esai, Apris Manafe Berupaya Mengubah Wajah Pendidikan di TTS

Kontributor : L.A Editor: Redaksi
IMG 20260704 WA0012

Meski terdengar lucu, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa setiap perubahan membutuhkan proses adaptasi. Lambat laun, kebiasaan baru tersebut akhirnya menjadi bagian dari rutinitas para guru dan kepala sekolah.

Tidak Hanya Disiplin, Kepala Sekolah Juga Wajib Menulis Esai

Terobosan Apris Manafe tidak berhenti pada penerapan absensi digital.

Ia kembali menggagas sebuah inovasi yang berbeda dengan mewajibkan seluruh kepala sekolah SD dan SMP menulis esai tentang kondisi sekolah masing-masing.

Melalui esai tersebut, para kepala sekolah diminta memetakan persoalan yang dihadapi sekolah, menganalisis akar penyebabnya, sekaligus menawarkan solusi yang dapat dilakukan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Menurut Apris Manafe, seorang kepala sekolah tidak cukup hanya mengurus administrasi sekolah. Ia harus memahami secara utuh kondisi sekolah yang dipimpinnya agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan peserta didik, guru, dan masyarakat.

Gerakan menulis esai ini diharapkan mampu membangun budaya berpikir kritis, reflektif, dan inovatif di kalangan kepala sekolah.

  • Bagikan
Exit mobile version