“Biasanya beliau baru berangkat sekitar pukul delapan, bahkan kadang lebih,” kenangnya sambil tersenyum.
Namun kini suasana itu berubah total.
Sejak absensi digital diterapkan, hampir tidak pernah lagi ia bertemu tetangganya pada pagi hari.
“Sekarang kami justru baru bisa bertemu sore hari. Pagi-pagi beliau sudah lebih dulu berangkat ke sekolah,” katanya.
Cerita menarik lainnya datang dari seorang kepala sekolah dasar yang identitasnya juga disamarkan.
Pada awal penerapan absensi digital, ia begitu bersemangat berangkat lebih pagi agar tidak terlambat. Namun sesampainya di sekolah, ia baru menyadari telepon genggam Android yang digunakan untuk melakukan absensi ternyata tertinggal di rumah.
Mau tidak mau, ia harus kembali pulang mengambil telepon genggam tersebut.
Akibatnya, justru pada hari itu ia terlambat melakukan absensi digital.
Peristiwa tersebut kini menjadi bahan candaan di kalangan rekan-rekannya.
“Sejak kejadian itu saya selalu memastikan dua hal sebelum berangkat, yaitu kunci kendaraan dan telepon genggam. Jangan sampai semangat disiplin, tetapi lupa membawa alat untuk absen,” ujarnya sambil tertawa.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
