Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dari Dapur Tradisional ke Peluang Bisnis: Institut Pendidikan SoE Sulap Jagung Bose Jadi Biskuit Bernilai Ekonomi di Desa Mio

Kontributor : L.A Editor: Redaksi
5bbc11aa 5757 4baa a0a7 0887ac8fd780

Kepala Desa Mio, Yermi S. Tse, menyampaikan apresiasi atas kontribusi dosen dan mahasiswa Institut Pendidikan SoE yang dinilai membawa manfaat nyata bagi masyarakat desa.

“Kami sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini. Jagung bose yang selama ini hanya dikonsumsi secara tradisional kini bisa diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai jual dan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Ketua Tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dian Ristiani Sabat, S.Si., M.Pd., dari Program Studi Pendidikan Biologi Institut Pendidikan SoE, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk integrasi antara ilmu pengetahuan dan potensi lokal masyarakat.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang kreatif dan mandiri. Jagung bose memiliki potensi besar jika dikembangkan dengan pendekatan inovatif dan tepat,” jelasnya.

Selain memberikan materi tentang pangan lokal khas NTT, tim dosen juga mengedukasi masyarakat mengenai proses produksi pangan yang higienis serta teknik pengemasan yang mampu meningkatkan daya tarik produk. Sementara itu, mahasiswa KKNT terlibat aktif mendampingi warga selama proses praktik berlangsung.

Baca Juga :  Project Kolaborasi, Solusi Perbaikan Pembelajaran dan Peningkatan Kompetensi Murid di SMKN 1 Takari
  • Bagikan