Hebat! Guru dan Siswa TTS Masuk Daftar 100 Penulis Terbaik Nasional

Kontributor : L.A Editor: Redaksi
7f3038d2 fc46 423d ad38 2e8a30a660eb

Langkah kecil itu kemudian berkembang menjadi gerakan nyata. Guru dan siswa mulai menuangkan pengalaman, mimpi, dan gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Hasilnya dibukukan dalam sebuah antologi berjudul “Menulis Mimpi, Merajut Harapan,” yang memuat 50 karya siswa dan 5 karya guru, sebuah potret jujur dari ruang belajar yang sederhana, namun penuh semangat.

Bagi mereka, menulis bukan sekadar tugas tambahan, melainkan bagian penting dari proses belajar.

“Ketika anak menulis, mereka otomatis belajar membaca. Mereka mencari referensi, memahami isi, lalu menyusunnya kembali. Di situlah nalar dan keberanian berpikir mereka terbentuk,” jelas Fransina.

Namun, di balik capaian tersebut, tersimpan tantangan besar. Gerakan literasi menulis di tingkat sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan masih sangat terbatas. Dari ratusan sekolah yang ada, hanya segelintir yang secara aktif menjadikan menulis sebagai budaya belajar.

Selain SD Inpres Taubneno, SD GMIT Soe II menjadi contoh lain yang mulai bergerak dan berhasil menghasilkan karya serupa berupa antologi cerita pengalaman pribadi.

  • Bagikan
Exit mobile version