Langkah kecil itu kemudian berkembang menjadi gerakan nyata. Guru dan siswa mulai menuangkan pengalaman, mimpi, dan gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Hasilnya dibukukan dalam sebuah antologi berjudul “Menulis Mimpi, Merajut Harapan,” yang memuat 50 karya siswa dan 5 karya guru, sebuah potret jujur dari ruang belajar yang sederhana, namun penuh semangat.
Bagi mereka, menulis bukan sekadar tugas tambahan, melainkan bagian penting dari proses belajar.
“Ketika anak menulis, mereka otomatis belajar membaca. Mereka mencari referensi, memahami isi, lalu menyusunnya kembali. Di situlah nalar dan keberanian berpikir mereka terbentuk,” jelas Fransina.
Namun, di balik capaian tersebut, tersimpan tantangan besar. Gerakan literasi menulis di tingkat sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan masih sangat terbatas. Dari ratusan sekolah yang ada, hanya segelintir yang secara aktif menjadikan menulis sebagai budaya belajar.
Selain SD Inpres Taubneno, SD GMIT Soe II menjadi contoh lain yang mulai bergerak dan berhasil menghasilkan karya serupa berupa antologi cerita pengalaman pribadi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
