Melalui proses pengepresan, volume limbah dapat diperkecil sehingga memudahkan penyimpanan dan pengangkutan.
Rektor Jefri Bale menyebut inovasi tersebut sebagai langkah konkret yang menunjukkan kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan solusi praktis bagi persoalan sehari-hari.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak cukup hanya dilakukan melalui kampanye kebersihan, tetapi juga membutuhkan dukungan teknologi yang mempermudah proses pengolahan.
“Ini merupakan inovasi yang sangat bermanfaat. Dengan alat ini, pengelolaan sampah menjadi lebih efektif dan efisien. Kami berharap setiap fakultas nantinya dapat memiliki alat serupa sehingga budaya pengelolaan sampah dapat tumbuh lebih kuat di seluruh lingkungan kampus,” ujarnya.
Ketua Tim Pengabdian FST, Ir. Rima Nindia Selan, M.T., menjelaskan bahwa ide pengembangan mesin muncul dari hasil pengamatan terhadap pola pengelolaan sampah di lingkungan universitas.
Tim menemukan bahwa sebagian besar ruang pada tempat penampungan sementara sebenarnya terisi oleh botol dan kaleng yang masih berongga. Akibatnya, kapasitas penampungan cepat penuh meskipun berat sampah yang ditampung belum terlalu besar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









