“Melalui alat ini, volume sampah dapat ditekan sehingga lebih mudah dikelola. Selain itu, proses pengangkutan menuju lokasi pemrosesan akhir juga menjadi lebih hemat karena jumlah sampah yang dapat dibawa dalam satu kali perjalanan meningkat,” jelasnya.
Selain untuk kepentingan operasional kampus, mesin tersebut juga dirancang sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa Teknik Mesin. Mahasiswa dapat mempelajari proses desain, manufaktur, hingga pengujian alat yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Dengan demikian, proses pembelajaran tidak berhenti pada teori di ruang kelas, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk yang dapat digunakan secara nyata.
Pihak FST juga menyiapkan langkah lanjutan berupa replikasi teknologi untuk mendukung program pengabdian masyarakat di sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur. Salah satu daerah yang menjadi sasaran berikutnya adalah Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.
Di wilayah tersebut, mesin serupa direncanakan akan digunakan untuk membantu pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
