Tanggung Jawab Akademik, Bukan Rekonsiliasi
Keputusan membuka segel, menurut Fisaldo, lebih merupakan tanggung jawab mahasiswa terhadap keberlangsungan aktivitas akademik. Dengan kata lain, ruang rektor memang telah terbuka, tetapi konflik antara mahasiswa dan pimpinan kampus belum menemukan titik temu.
Hingga kini, benang kusut persoalan yang melatarbelakangi aksi penyegelan belum sepenuhnya terurai. Retaknya komunikasi antara mahasiswa dan rektorat masih menjadi persoalan mendasar yang belum ditangani secara tuntas.
Sikap Rektorat Masih Misterius
Upaya media untuk mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak rektorat terkait perkembangan terbaru ini belum membuahkan hasil. Sejumlah pertanyaan tentang respons pimpinan kampus terhadap aksi mahasiswa masih menggantung tanpa jawaban.
Situasi tersebut meninggalkan tanda tanya besar: apakah langkah mahasiswa membuka segel akan menjadi awal dialog konstruktif, atau justru hanya jeda sementara dalam konflik yang lebih panjang.
Meski spanduk protes telah diturunkan dan pintu ruang rektor kembali terbuka, luka dari polemik penyegelan masih terasa. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, kasus ini menegaskan bahwa dinamika kampus tidak hanya berkisar pada urusan akademik, melainkan juga ruang pertarungan ide, otoritas, dan legitimasi kepemimpinan. (Ein)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
