“Saya datang dengan kenangan ketika kita bersama-sama membangun sekolah ini. Tetapi saya prihatin, sepuluh tahun kemudian anak-anak masih belajar di ruang darurat yang dahulu kita bangun. Gotong royong masyarakat harus mendapat tindak lanjut melalui pembangunan fasilitas pendidikan yang layak,” ujarnya.
Ada jarak antara semangat mendirikan sekolah dan kebutuhan untuk memastikan fasilitasnya terus berkembang. Gotong royong masyarakat telah membantu membuka akses pendidikan, tetapi keberlanjutan pembangunan membutuhkan perencanaan dan dukungan pemerintah.
Di SMAN 2 Sulamu, kebutuhan tersebut kini terlihat pada kekurangan tujuh ruang kelas yang layak.
Bukan hanya soal bangunan
Dalam dialog bersama siswa, guru, komite sekolah, dan orang tua, Winston juga menerima aspirasi mengenai kejelasan status tujuh guru PPPK paruh waktu, kesulitan pengurusan NUPTK bagi tenaga honorer, serta kebutuhan fasilitas penunjang pembelajaran.
Persoalan guru menambah dimensi lain dalam cerita sekolah ini. Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui ruang kelas, tetapi juga melalui kerja para pendidik yang memastikan pelajaran tetap diberikan di tengah keterbatasan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








