“Kami memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensinya melalui karya tulis. Dari situ kami dorong mereka hingga mampu menghasilkan karya dalam bentuk buku,” jelas Arnold.
Ia menilai budaya menulis, baik bagi guru maupun peserta didik, masih tergolong langka di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Karena itu, sekolah terus membuka peluang kolaborasi demi meningkatkan kompetensi literasi di lingkungan pendidikan.
“Jujur, kegiatan menulis bagi guru dan peserta didik itu masih sangat langka di TTS, termasuk di sekolah kami. Karena itu kami terus membuka ruang dengan berbagai mitra demi pengembangan kompetensi guru dan siswa,” katanya.
Menurut Arnold Silla, ketika guru dan peserta didik mulai aktif membaca dan menulis, maka kemampuan berpikir kritis dan nalar mereka akan terasah secara alami. Hal itulah yang sementara dibangun oleh pihak sekolah.
Selain penguatan literasi, sekolah juga terus memberi perhatian terhadap pengembangan numerasi sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran agar peserta didik mampu memahami, menganalisis, dan memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









