SMP NEGERI O’OBIBI BANGUN BUDAYA LITERASI MELALUI KARYA

Kontributor : L.A Editor: Redaksi
IMG 20260901 185932

“Ketika guru dan murid menulis, sebenarnya mereka sedang belajar banyak hal. Guru belajar merefleksikan pengalaman dan menyusun gagasan, sementara murid belajar berpikir, bercerita, menyusun kalimat, dan berani menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya,” jelas Lefinus.

Menurutnya, karya tulis murid juga dapat menjadi salah satu bahan bagi guru untuk melihat perkembangan kemampuan anak secara lebih dekat.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Melalui tulisan, guru dapat melihat bagaimana seorang murid memahami pengalaman, menyusun gagasan, menggunakan bahasa, dan mengungkapkan perasaan. Dari sana, guru dapat menentukan bagian mana yang masih perlu diperkuat melalui pendampingan.

“Karya tulis anak-anak bisa menjadi salah satu asesmen yang sangat berarti. Dari tulisan itu kita bisa melihat kemampuan mereka, pengalaman mereka, cara mereka berpikir, dan potensi yang perlu terus dikembangkan,” katanya.

Dari Pengalaman Sehari-hari Menjadi Karya

Dalam proses pendampingan, murid diajak untuk tidak takut memulai. Mereka tidak harus menulis sesuatu yang luar biasa. Pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka justru dapat menjadi bahan cerita.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten
Baca Juga :  Kalender Akademik Baru Undana 2026/2027, Menata Ritme Kampus Menuju Pendidikan yang Lebih Efektif
  • Bagikan