“Kami mengubah model ujian dengan pola Karya Tulis Ilmiah. Semua guru dibagi untuk mendampingi 66 peserta didik selama kurang lebih tiga bulan dalam proses penyusunan karya ilmiah mereka,” ujar Jon seusai pengumuman kelulusan.
Menurutnya, penerapan pola berbasis KTI memberikan hasil yang cukup memuaskan. Para siswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga dituntut mencari referensi dan memperluas wawasan melalui kebiasaan membaca.
“Sebelum menulis, anak-anak tentu harus mencari berbagai referensi. Karena itu secara otomatis mereka termotivasi untuk membaca. Kami melihat kualitas anak-anak juga meningkat,” katanya.
Jon menilai pola pembelajaran dan evaluasi seperti ini sangat penting diterapkan di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, yang perlahan mulai menggeser budaya membaca, baik di kalangan peserta didik maupun guru.
“Pembiasaan membaca mulai menjadi sesuatu yang langka. Karena itu melalui pola menulis seperti ini kami ingin membangun budaya literasi di sekolah. Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan literasi baca-tulis melalui berbagai karya,” tambahnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









