Setelah pernyataan tersebut, narasumber RELIMA Perpusnas RI Kabupaten TTS, Lefinus Asbanu, S.Pd., menekankan bahwa membangun budaya literasi di sekolah tidak cukup hanya dengan menyediakan buku atau membuat pojok baca.
Menurut Lefinus, yang jauh lebih penting adalah bagaimana buku benar-benar dibaca dan aktivitas membaca menjadi kebiasaan yang hidup di tengah warga sekolah.
“Literasi tidak boleh berhenti pada kegiatan membaca saja. Anak-anak perlu diberi ruang untuk membaca, memahami apa yang dibaca, kemudian berani menyampaikan kembali apa yang mereka temukan,” kata Lefinus.
Ia juga mendorong agar kebiasaan membaca berjalan beriringan dengan aktivitas menulis.
Menurutnya, membaca membuka pengetahuan, sedangkan menulis menjadi salah satu cara bagi murid untuk mengolah dan meninggalkan jejak dari apa yang telah mereka baca dan pelajari.
“Anak membaca untuk tahu, tetapi anak juga perlu menulis agar apa yang diketahui tidak hilang begitu saja,” ujarnya.
Sementara itu, Sepry Payon selaku moderator memandu jalannya sosialisasi agar kegiatan berlangsung interaktif. Para murid diberi ruang untuk mengikuti materi, menyampaikan tanggapan, dan terlibat dalam berbagai aktivitas selama kegiatan berlangsung.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








