Menurutnya, pendidik Kristen dituntut untuk berpegang pada tiga tujuan pengajaran, yaitu konfesional, kovenantal, dan antitetis, dengan menempatkan Kristus sebagai pusat pendidikan. Pendekatan ini menekankan pentingnya pengintegrasian pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan karakter dalam proses belajar-mengajar.
“Pendidik Kristen yang mengajarkan ilmu pengetahuan baik sains maupun bidang lainnya tanpa mengintegrasikan nilai-nilai Alkitab, secara tidak langsung ikut menyumbang kemiskinan di NTT,” ujar Dr. Edwer.
Ia mencontohkan, seorang guru biologi perlu memahami nilai Alkitab agar mampu memotivasi peserta didik menggunakan ilmunya bagi kemuliaan Sang Pencipta dan kepentingan masyarakat.
Sementara itu, narasumber lainnya, Dr. Fichtor Missa, menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang transformasi, bukan sekadar tempat rutinitas administratif.
“School is not a scam school is a transformation machine!” tegasnya di hadapan peserta.
Ia menyampaikan bahwa pendidik Kristen ditantang untuk mengambil keputusan yang bersifat rohani, profesional, dan etis, kemudian mewujudkannya dalam tindakan nyata, baik di ruang kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
