Bupati juga menyoroti pentingnya memberi ruang seluas-luasnya kepada anak-anak untuk tampil dan mengekspresikan talenta mereka. Ia mengingatkan agar acara semacam ini tidak sekadar dijadikan seremoni formal orang dewasa yang hanya menampilkan anak-anak sebagai pelengkap.
“Jangan kita biarkan budaya dibentuk oleh orang tua tanpa melibatkan anak-anak. Berikan mereka panggung. Karena dari situ, mereka akan mengenal, mencintai, dan akhirnya menjaga budaya itu dengan hati,” ucapnya.
Salah satu daya tarik dari festival ini adalah perpaduan antara kesenian tradisional dan edukasi modern. Bonet, yang ditampilkan anak-anak dari berbagai desa, menjadi simbol persatuan dan semangat kolektif masyarakat Amfoang. Menurut Yosef, Bonet bukan sekadar tarian, melainkan “wujud nyata dari persaudaraan dan kegembiraan bersama.”
Di sisi lain, edukasi makanan bergizi yang berbasis pangan lokal seperti jagung, ubi, dan sayuran daerah menjadi bentuk konkrit dari sinergi budaya dan kesehatan. Ini menjadi jawaban atas tantangan stunting dan gizi buruk yang masih menjadi perhatian di beberapa wilayah pedalaman NTT.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









