Yosef menegaskan bahwa visi besar “Kabupaten Kupang Emas” tidak hanya soal pembangunan fisik dan infrastruktur, tapi juga pembangunan karakter dan identitas kultural masyarakat, terutama generasi mudanya.
Kegiatan ini juga menjadi refleksi tentang bagaimana pendidikan anak usia dini bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk utama dalam pembangunan budaya. Ketua panitia festival menyampaikan bahwa anak-anak yang terlibat dalam festival ini telah menjalani pelatihan selama berbulan-bulan. Proses tersebut melibatkan guru, orang tua, dan tokoh adat sebagai fasilitator.
Sebagian besar peserta merasa bahwa kegiatan ini membuat anak-anak lebih percaya diri, lebih menghargai orang lain, dan lebih paham akan asal-usul mereka. Banyak orang tua yang datang jauh-jauh dari kampung menyampaikan rasa bangganya melihat anak mereka bisa tampil membawakan budaya sendiri.
“Anak saya dulu pemalu, sekarang dia bisa tampil di depan umum, menari, dan menyanyi dengan busana adat. Ini bukan sekadar festival, ini proses membangun jati diri,” ujar seorang ibu dari Desa Naunu.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
