Lebih dari sekadar gestur sederhana, tindakannya mencerminkan filosofi servant leadership, di mana seorang pemimpin mengedepankan pengabdian, bukan kekuasaan.
Menurut sosiolog Astrid Soesanto, Seorang sosiolog yang fokus pada isu-isu gender dan feminisme di Indonesia dalam tulisannya menekankan tindakan ini membawa dampak psikologis besar bagi publik.
“Warga melihat bahwa pemimpinnya tidak hanya bicara soal pelayanan, tapi benar-benar menjalankannya. Ini membangun rasa percaya dan kedekatan yang otentik antara pemimpin dan rakyat”.
Warga yang menyaksikan langsung menyebutnya sebagai pemandangan langka. “Kami sempat kaget dan kagum. Tidak banyak pejabat yang mau seperti itu,” ujar Ibu Yuliana, salah satu pengantre di lokasi.
Di tengah tantangan birokrasi dan minimnya kepercayaan publik terhadap pemerintah, momen ini menjadi contoh nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tindakan kecil. Bukan soal pencitraan, tapi keberanian untuk menjadi biasa di tengah jabatan yang luar biasa.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









