Di rumah-rumah berdinding bambu, Jane duduk bersila bersama warga, menyantap ubi rebus, berbagi tawa, dan mendengar kisah-kisah sederhana tentang musim tanam yang gagal, atau anak yang sedang demam.
“Yang saya lakukan hanyalah menjadi teman bagi mereka, dan mereka pun menerima saya sebagai bagian dari hari-hari mereka,” tuturnya.
Bagi warga yang kerap merasa jauh dari pusat perhatian, kehadiran Jane menjadi semacam oase—ia tak membawa janji, tapi membawa rasa dihargai. Ia tidak memberi ceramah, tapi menyimak. Ia tidak menawarkan solusi instan, tapi hadir sebagai manusia utuh: mendengar, memahami, dan menguatkan.
Bertemu Tanpa Batas, Belajar Tanpa Sekat
Dalam setiap langkahnya, Jane belajar untuk tidak memandang dari sudut pandang “yang memberi” dan “yang menerima”. Ia memahami, relasi seperti itu hanya menciptakan jarak. Yang ia bangun adalah persahabatan yang sejajar, di mana setiap pertemuan menjadi ruang tumbuh bersama.
Baca Juga : Viral Satu Foto, Gugur Dua Hak Anak: Potret Kelam Dunia Pendidikan di Ujung Negeri
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
