BI mencatat bahwa kawasan ini memiliki nilai impor kopi yang mencapai miliaran dolar setiap tahun. Namun sayangnya, pangsa Indonesia masih relatif kecil dibandingkan Brasil, Ethiopia, dan Vietnam. Di sinilah strategi diplomasi kopi memainkan peran krusial.
Melalui pameran produk unggulan, business matching, hingga pendekatan G to G dan B to B, BI–KBRI Rabat membangun narasi kuat bahwa kopi Indonesia bukan hanya produk, tetapi bagian dari identitas budaya Nusantara.
Dalam beberapa tahun terakhir, BI memperkuat pendekatan diplomasi ekonomi melalui UMKM binaan yang telah dikurasi ketat, termasuk petani dan roaster kopi premium. KBRI Rabat kemudian menjadi ujung tombak diplomasi pasar dengan membuka ruang pertemuan bisnis, memperkenalkan importir besar, serta menginisiasi kerja sama dagang jangka panjang.
Salah satu terobosan besar adalah penyelenggaraan Indonesia–Morocco Coffee Showcase, yang mempertemukan pelaku industri kopi Indonesia dengan jaringan distributor Afrika Utara. Acara ini tidak hanya menampilkan cita rasa kopi Nusantara—seperti Arabica Gayo, Kintamani, Toraja, hingga Liberika Rangsang—tetapi juga memberikan edukasi tentang karakteristik kopi Indonesia yang memiliki kompleksitas rasa dan keunikan geografis.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
