Kupang, SN – Tambak udang seringkali dianggap sebagai bisnis yang mahal dan sulit diakses bagi banyak orang. Bahkan ketika orang awam membayangkan tambak udang, terlintas dalam pikiran mereka, biaya yang besar untuk pembukaan dan penataan lahan.
Itu lumrah sebab dalam pandangan awam yang masih berorientasi pada pemanfaatan lahan di pesisir, usaha seperti ini harus dilakukan di tambak yang mengandalkan pasang surut dengan bayangan biaya yang besar untuk menyewa alat berat pada tahapan pembukaan lahan.
Namun, Dr Franchy Christian Liufeto Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FPKP Undana, telah memperkenalkan model kemitraan investasi udang yang inklusif, membuka pintu bagi lebih banyak individu untuk terlibat dalam industri perikanan yang berkembang pesat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
