BPS NTT mencatat bahwa inflasi di kawasan perdesaan mencapai 0,27%, dengan subkelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar.
“Kenaikan ini mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat pedesaan, yang umumnya memiliki pendapatan lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat perkotaan,” tambah Matamira.
Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan harga. Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain adalah menggelar operasi pasar untuk memastikan ketersediaan barang kebutuhan pokok, serta memperbaiki infrastruktur distribusi agar barang dapat sampai ke konsumen dengan biaya yang lebih efisien.
“Kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk pengusaha dan petani lokal, perlu ditingkatkan untuk menjaga stabilitas harga. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan kelancaran distribusi logistik, terutama ke daerah-daerah terpencil,” ujar Matamira.
Dengan langkah-langkah antisipatif yang tepat, diharapkan inflasi di NTT dapat dikendalikan, sehingga tidak memberikan dampak yang terlalu besar terhadap perekonomian daerah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
