Situasi ini semakin memanas setelah warga menyebut bahwa sejumlah kesepakatan yang pernah dibahas dalam forum mediasi sebelumnya tidak dijalankan secara konsisten oleh pihak pelaksana proyek. Kondisi tersebut memicu kekecewaan yang meluas dan mendorong munculnya rencana aksi pemalangan jalan secara total terhadap truk proyek.
Meski demikian, warga menegaskan bahwa penutupan akses tidak akan diberlakukan kepada seluruh pengguna jalan. Mereka masih memberikan toleransi bagi kendaraan masyarakat umum, termasuk sepeda motor dan mobil pribadi. Penolakan hanya ditujukan kepada kendaraan proyek berskala besar seperti truk dan tronton pengangkut material.
“Kami tidak menutup jalan untuk masyarakat. Yang kami batasi hanya truk-truk proyek saja. Karena dampaknya yang kami rasakan paling besar dari mereka,” tegas salah satu perwakilan warga.
Di sisi lain, aparat kepolisian telah mengimbau warga agar tidak melakukan tindakan penutupan jalan secara sepihak. Polisi menegaskan bahwa jalan tersebut merupakan akses publik yang digunakan oleh banyak pihak, sehingga setiap permasalahan harus diselesaikan melalui jalur dialog dan mediasi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
