Arnol Sinaga selaku pimpinan firma hukum juga menyuarakan hal serupa. Ia berharap agar kliennya, Untung Sampurno (developer PT RRAA), yang merasa dirugikan selama bertahun-tahun, bisa memperoleh keadilan di tengah situasi yang kerap kali memihak pada kekuatan massa.
“Negara harus hadir. Jangan beri ruang pada premanisme dan oknum yang memanipulasi status sosial untuk menekan penegakan hukum,” tutup Arnol.
Insiden ini menjadi refleksi keras atas masih suburnya praktik premanisme yang berlindung di balik isu sosial dan institusi. Aparat kepolisian kini ditantang untuk tidak hanya menangkap pelaku lapangan, namun juga mengungkap aktor intelektual dan jaringan yang terlibat di balik insiden kekerasan terhadap aparat penegak hukum sipil, seperti advokat.
Masyarakat pun menantikan, apakah kasus ini akan menjadi awal pembenahan hukum di Cengkareng, atau justru menjadi preseden buruk lainnya jika para pelaku utama kembali lolos dari jerat hukum. Pemerintah dan aparat kepolisian kini berada di bawah sorotan publik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
