Keempat, mendesak kampus dan gereja untuk tidak mendukung pengembangan proyek geothermal. Kelima, meminta pemerintah dan PLN mencabut seluruh izin proyek geothermal di Flores dan Lembata.
Surat terbuka tersebut ditandatangani oleh berbagai komunitas yang selama ini dikenal aktif menyuarakan penolakan terhadap proyek geothermal, antara lain komunitas dari Atakore Atadei, Oka Ile Ange, Detusoko, Kombandaru, Lesugolo, Sokoria, Mataloko, Nage, Nagekeo, Poco Leok, dan Wae Sano.
Hingga surat terbuka tersebut dipublikasikan, warga tetap mempertahankan sikap penolakan mereka terhadap proyek geothermal dan menegaskan bahwa tanah adat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat.
Mereka berharap pemerintah, pengembang, serta seluruh pihak terkait mendengar aspirasi masyarakat sebelum mengambil keputusan yang berdampak terhadap masa depan komunitas lokal di Flores dan Lembata.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
