Lagu-lagu perjuangan yang mereka bawakan—seperti Tanah Airku, Hari Merdeka, hingga Indonesia Pusaka—menjadi simbol kuat cinta Tanah Air yang tak pudar meski jarak memisahkan. Menurut Tamara, setiap getaran angklung adalah doa, pengharapan, dan ungkapan identitas. “Rasanya kayak balik ke Indonesia. Musik angklung itu bikin kita ingat rumah.”
Kelompok angklung ini bukanlah pemain baru dalam panggung diplomasi. Mereka telah beberapa kali tampil mewakili Indonesia di Pakistan, mulai dari resepsi diplomatik peringatan 75 tahun hubungan bilateral Indonesia–Pakistan, acara budaya, hingga Indonesian Expo di pusat perbelanjaan. Setiap penampilan mereka selalu mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat Pakistan maupun tamu internasional. “Alhamdulillah semua menyambut,” tutur Tamara, menegaskan betapa seni tradisional Indonesia diterima dengan penuh apresiasi di Pakistan.
Namun penampilan pada 8 Desember ini memiliki nuansa berbeda. Ini bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan persembahan cinta dari warga Indonesia untuk Presiden mereka sendiri. Tamara bahkan mengaku terharu ketika melihat Presiden Prabowo menghampiri kelompok angklung dan ikut bersenandung pelan mengikuti alunan musik. “Pak Presiden ikut bersenandung. Pokoknya kita happy melihat Bapak datang menghampiri kita semua,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








