Yuri Ushakov, asisten kebijakan luar negeri Kremlin, menyatakan setelah pertemuan dengan penasihat keamanan nasional AS, Mike Waltz, bahwa proposal gencatan senjata AS selama satu bulan tidak mempertimbangkan posisi Rusia dan perlu diubah.
Menurut media Rusia, Ushakov menyebut dokumen tersebut terburu-buru dan menekankan pentingnya untuk mempertimbangkan posisi Rusia dalam penyusunan perjanjian.
Kremlin tetap menolak segala bentuk perjanjian yang melibatkan penempatan pasukan Barat di Ukraina untuk menjaga perdamaian, meskipun beberapa negara Eropa, termasuk Inggris dan Prancis, bersedia melakukannya.
Pernyataan Putin menunjukkan bahwa meskipun Ukraina mulai membuka diri terhadap gencatan senjata, situasi ini menjadi dilema bagi Kremlin, mengingat posisi militer Rusia yang kini lebih menguntungkan. Keputusan Rusia untuk menerima atau menolak tawaran gencatan senjata ini akan memiliki dampak besar terhadap hubungan dengan Washington dan proses diplomatik yang lebih luas.
Di medan perang, pasukan Ukraina terus menghadapi tekanan besar dari serangan Rusia yang didukung oleh pasukan Korea Utara. Pada Agustus lalu, serangan Ukraina menyebabkan pasukan asing pertama kali menguasai wilayah Rusia sejak Perang Dunia II, yang memalukan bagi Kremlin.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
