Pendekatan tersebut mengubah orientasi pelayanan dari sekadar menangani penyakit menjadi mendorong pencegahan agar komplikasi dan kebutuhan layanan berbiaya tinggi dapat ditekan.
Dari Membayar Layanan ke Mengukur Hasil
Transformasi juga diarahkan pada pelayanan di rumah sakit. BPJS Kesehatan mendorong fasilitas kesehatan agar semakin berorientasi pada mutu dan outcome pasien.
Sejumlah pendekatan yang dikembangkan mencakup pengambilan keputusan terpadu melalui Heart Team, penerapan tata laksana klinis sesuai pedoman, pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), serta staged revascularization.
BPJS Kesehatan juga mendorong perubahan indikator monitoring mutu pelayanan intervensi jantung. Pengukuran tidak lagi hanya berfokus pada proses pelayanan, tetapi semakin diarahkan pada hasil yang diterima pasien.
Indikator yang dipantau antara lain waktu tanggap kritis, keselamatan setelah tindakan, akurasi intervensi, kualitas pemulihan, kepatuhan terhadap protokol, serta efisiensi sistem rujukan.
“Kita ingin mengubah paradigma dari paying for services menjadi purchasing better outcomes, dari treating events menjadi preventing events, serta dari mengukur utilisasi menjadi mengukur outcome,” ujar Pujo.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
