Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Atalia Praratya: Tragedi Anak SD di NTT Menunjukkan Luka Sosial Kemiskinan yang Lebih Dalam

tragedi
Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya

Ia menekankan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan serba terbatas kerap menghadapi tekanan emosional yang tidak selalu terlihat oleh orang dewasa di sekitarnya. Ketika kebutuhan dasar—termasuk akses pendidikan—tidak terpenuhi, risiko gangguan psikososial pada anak pun meningkat.

Atalia mengingatkan bahwa situasi di Nusa Tenggara Timur memperlihatkan tantangan yang masih nyata. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) awal 2025, tingkat kemiskinan di provinsi tersebut masih berada di kisaran 18,6 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang tercatat 8,47 persen. Ketimpangan juga terlihat jelas antara wilayah pedesaan dan perkotaan, dengan angka kemiskinan di desa mencapai 23,02 persen, sementara di perkotaan sekitar 8,11 persen.

Dalam konteks itu, Atalia mengapresiasi langkah pemerintah melalui Program Sekolah Rakyat, yang dirancang untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Menurutnya, program tersebut dapat berfungsi sebagai jaring pengaman sosial di bidang pendidikan, asalkan dijalankan secara tepat sasaran dan terintegrasi dengan kebijakan perlindungan sosial lainnya, sehingga tragedi seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya.

Baca Juga :  Dekranasda Malaka di Bawah Kepemimpinan drg. Maria Martina Nahak, M.Biomed: Melayani Warga Desa Haitimuk dengan Dedikasi Tinggi
  • Bagikan