Kenangan Spiritual Bersama Gus Dur
Haji Taufiq mengenang perjalanan panjangnya bersama Gus Dur sejak tahun 1980-an. Saat itu, sebagai aktivis mahasiswa dan Ketua Umum KAM-PBS (Keluarga Alumni Mahasiswa Penerima Beasiswa Supersemar), ia kerap mendampingi Gus Dur dalam safari spiritual—ziarah ke makam-makam wali dan tokoh spiritual lintas tradisi dari era Wali Songo hingga zaman Hindu-Buddha.
“Kami pernah bersama ziarah ke tokoh spiritual Ibu Gusti Aji, pertapa di Gunung Slamet. Dari beliau, Gus Dur banyak mendapatkan ilham kebangsaan yang terbuka dan inklusif,” kenangnya.
Gus Dur: Ulama, Reformis, Negarawan
Gus Dur dikenal sebagai ulama progresif yang berhasil mendorong transformasi pendidikan pesantren menjadi lebih modern. Pada masa kepemimpinannya di PBNU (1984–1999), ia menerima asas Pancasila, membuka ruang diskusi dalam kelompok belajar NU, dan menjalin kedekatan dengan berbagai kelompok minoritas.
Bahkan, dalam konteks politik Orde Baru, Gus Dur tetap bersuara kritis, seperti saat menentang proyek Waduk Kedung Ombo. Dalam catatan sejarah, Gus Dur menjadi jembatan antara kekuatan Islam tradisional, negara, dan kelompok-kelompok non-muslim.
“Gus Dur memodernkan pesantren dengan pendekatan kebangsaan. Ia menanamkan nilai bahwa keislaman dan keindonesiaan adalah satu napas,” jelas Haji Taufiq yang kini menjabat Ketua Umum PP Gerakan Masyarakat Rekonsiliasi Nasional (GeMaReN).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








