Di Van Lith, Herman digembleng untuk menjadi pribadi yang humanis, militan, dan toleran, sebagaimana nilai-nilai yang ditanamkan Romo Fransiscus Georgius Josephus Van Lith. Prinsip-prinsip nasionalisme, patriotisme, humanisme, militansi, dan iman Katolik menjadi dasar perjuangan hidup Herman, yang kelak ia wujudkan dalam palagan perang demi membela kemerdekaan.
Saat pendudukan Jepang, Herman bersama temannya Alex Rumambi menjadi romusha di tambang batubara Bayah, Banten. Di sana, ia bertemu Tan Malaka, tokoh pergerakan nasional yang menyamar sebagai Ilyas Husein. Pertemuan ini memberikan pengalaman berharga yang membentuk kepribadian Herman.
Tan Malaka tidak hanya menginspirasi Herman lewat perjuangan melawan penindasan Jepang, tetapi juga lewat semangat solidaritas. Bersama rekan-rekan romusha, Herman belajar tentang pentingnya kebersamaan dan pengorbanan. Di Bayah, Herman turut membantu teman-temannya yang masih bersekolah di Yogyakarta dengan menyisihkan sebagian gajinya sebagai pegawai tambang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








