“Pada hari ini, negara Indonesia secara resmi berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada pangan,” tegas Presiden. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut harus diiringi dengan kewaspadaan, keberanian melakukan koreksi, dan komitmen jangka panjang.
Presiden juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas pengelolaan kekayaan nasional yang selama ini belum optimal. Menurutnya, masih banyak potensi bangsa yang bocor, tidak efisien, dan belum sepenuhnya bermuara pada kesejahteraan rakyat.
“Bagaimana mungkin negara yang begitu kaya, tetapi masih banyak rakyatnya yang miskin. Ini tidak masuk akal dan tidak masuk di hati saya,” ujar Presiden. Dalam konteks pangan, Presiden menegaskan penolakannya terhadap ketergantungan impor yang dianggap bertentangan dengan logika dan martabat bangsa.
Bagi NTT, pesan Presiden memiliki makna strategis. Wilayah dengan tantangan iklim ekstrem, keterbatasan air, dan struktur lahan yang tersebar ini selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan produksi. Namun, melalui pendekatan kebijakan yang lebih terintegrasi—mulai dari penguatan irigasi, mekanisasi pertanian, pendampingan penyuluh, hingga keberpihakan anggaran—produktivitas perlahan menunjukkan perbaikan signifikan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









