Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Algoritma Media Sosial Mengancam Kemampuan Belajar Peserta Didik

Kontributor : Omri Nomleni Editor: Redaksi
IMG 20260502 WA0018

Dari sisi psikologi, Adam Alter menjelaskan bahwa media sosial dirancang untuk menciptakan kecanduan melalui sistem penghargaan instan. Notifikasi, “like”, dan video singkat memicu pelepasan dopamin di otak, sehingga pengguna cenderung mencari kesenangan cepat dibandingkan aktivitas yang membutuhkan usaha lebih besar, seperti belajar. Akibatnya, motivasi belajar menurun dan siswa lebih mudah terdistraksi.

Lebih jauh, algoritma juga mendorong perilaku prokrastinasi. Siswa yang awalnya hanya berniat membuka media sosial beberapa menit, sering kali terjebak berjam-jam karena konten yang terus disesuaikan dengan minat mereka. Waktu belajar pun tergerus, tugas tertunda, dan hasil akademik berpotensi menurun.

Dengan demikian, masalah utama bukan pada media sosial itu sendiri, melainkan pada algoritma yang tidak dirancang untuk kepentingan pendidikan, melainkan untuk mempertahankan perhatian pengguna. Jika tidak dikendalikan, peserta didik akan terus berada dalam lingkaran distraksi digital.

Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Sekolah perlu mengintegrasikan literasi digital dalam pembelajaran agar siswa mampu menggunakan teknologi secara bijak. Orang tua harus lebih aktif dalam mengawasi penggunaan media sosial anak. Sementara itu, siswa perlu dilatih untuk mengatur waktu, membangun disiplin diri, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya fokus dalam belajar.

Baca Juga :  Ketika Kantor Pemerintah Didobrak, Apa Lagi yang Masih Kita Anggap Sakral?
  • Bagikan