Di Nusa Tenggara Timur, tren serupa juga terlihat. Penggunaan media sosial terus meningkat, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Akses melalui smartphone membuat media sosial semakin mudah dijangkau, dengan penggunaan yang didominasi untuk komunikasi dan hiburan, serta sebagian kecil untuk pembelajaran.
Persoalan utama bukan terletak pada keberadaan media sosial, melainkan pada cara algoritma bekerja. Algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Akibatnya, siswa terus disuguhi konten yang menarik secara cepat dan berulang, tanpa memberi ruang bagi proses berpikir mendalam.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Nicholas Carr dalam bukunya “The Shallows,” yang menyebutkan bahwa kebiasaan membaca di internet dapat mengurangi kemampuan konsentrasi jangka panjang. Dalam konteks pendidikan, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena proses belajar membutuhkan fokus, ketekunan, dan kedalaman berpikir.
Hal serupa juga ditegaskan oleh Cal Newport melalui konsep “deep work,” yaitu kemampuan untuk fokus secara intens tanpa gangguan. Menurutnya, distraksi digital termasuk media sosial merupakan ancaman serius bagi kemampuan seseorang untuk berpikir secara mendalam dan produktif.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









