Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Bukan Lagi Soal Bantuan, Tapi Soal Kemauan: Catatan Kritis dari Kupang Timur

bukan-lagi-soal-bantuan-tapi-soal-kemauan-catatan-kritis-dari-kupang-timur
Bukan Lagi Soal Bantuan, Tapi Soal Kemauan: Catatan Kritis dari Kupang Timur

Secara filosofis, pernyataan Yosef Lede dapat dibaca melalui lensa agency theory dan pemikiran eksistensialis. Jean-Paul Sartre menyebut bahwa manusia adalah makhluk yang dikutuk untuk bebas—yakni selalu berada dalam posisi untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Dalam konteks Amabi Oefeto Timur, lahan pertanian adalah ruang pilihan itu; potensi yang menunggu diaktualisasikan.

Namun banyak komunitas agraris kerap terperangkap dalam apa yang disebut para ekonom perkembangan sebagai ketergantungan struktural. Ketergantungan itu tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga psikologis dan kultural. Bantuan menjadi comfort zone, membuat masyarakat secara tidak sadar mengurangi inisiatif untuk menanam, merawat lahan, dan berproduksi.

Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, maka masyarakat tidak lagi melihat tanah sebagai ruang produktif, tetapi hanya sebagai simbol keberadaan, sekadar ruang tempat berdiri rumah. Padahal, di tingkat filosofis, tanah adalah perpanjangan eksistensi manusia—ruang di mana makna hidup dapat diwujudkan melalui kerja dan kreativitas.

Baca Juga :  Disiplin Menyalakan Harapan di SMA Negeri Sabun
  • Bagikan