Bukan Lagi Soal Bantuan, Tapi Soal Kemauan: Catatan Kritis dari Kupang Timur

bukan-lagi-soal-bantuan-tapi-soal-kemauan-catatan-kritis-dari-kupang-timur
Bukan Lagi Soal Bantuan, Tapi Soal Kemauan: Catatan Kritis dari Kupang Timur

Di titik inilah pernyataan Bupati Lede menemukan relevansinya: bukan lagi soal bantuan, tetapi soal kemauan untuk mengaktualisasikan kebebasan eksistensial melalui kerja pada lahan sendiri.

Lahan yang Tidur adalah Potensi yang Hilang

Kupang Timur memiliki potensi agroklimat yang unik: cocok untuk tanaman umur pendek seperti jagung, kacang-kacangan, sayuran tahan panas, serta tanaman umur panjang seperti kelapa, mahoni, mete, dan jati. Kesemuanya bernilai ekonomi tinggi.

Namun realitasnya: banyak lahan dibiarkan tidur. Lahan tidur adalah paradoks pembangunan: tanah ada, bibit tersedia, alat pertanian disalurkan, tetapi pergerakan tidak terjadi.

Dalam teori capability approach Amartya Sen, kemiskinan bukan semata ketiadaan pendapatan, melainkan ketiadaan kemampuan (capability) untuk menggunakan potensi yang ada. Kupang Timur memiliki sumber daya alam—tetapi tidak secara optimal memiliki kapasitas sosial untuk menggerakkan potensi tersebut.

Di sini letak urgensi pernyataan Yosef Lede: mengingatkan bahwa kemiskinan sering bukan soal ketiadaan aset, tetapi soal ketidakmampuan mengaktifkan aset.

  • Bagikan
Exit mobile version