Mengajar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) membuat saya menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tentang kurikulum, melainkan tentang menjembatani dunia. Jarak geografis yang panjang, keterbatasan akses informasi, dan minimnya paparan bahasa asing bukan sekadar latar belakang, tetapi realitas yang membentuk cara siswa memandang pelajaran.
Dalam banyak kesempatan, saya teringat gagasan Lev Vygotsky bahwa belajar terjadi melalui interaksi dan dukungan sosial. Di kelas kecil ini, teori itu terasa hidup. Setiap dorongan sederhana seperti mengajak siswa mengucapkan satu kata dengan pelan menjadi langkah kecil yang berarti.
Saya sering menggunakan Bahasa Dawan (Uab Meto) untuk menjelaskan konsep. Ketika kata “I” saya hubungkan dengan “Au,” suasana kelas berubah; ada rasa akrab yang muncul, seolah bahasa yang jauh tiba-tiba menemukan rumahnya.
Pemikiran Jim Cummins tentang pentingnya bahasa pertama dalam pembelajaran bahasa kedua terasa sangat relevan di sini: bahasa lokal bukan penghalang, melainkan jembatan yang memungkinkan pemahaman tumbuh secara perlahan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
