Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Melawan Pergaulan Bebas dengan Disiplin Jasmani

Kontributor : Yani H. Boimau, S.Pd.  Editor: Redaksi
IMG 20260204 222242

Masalah utamanya terletak pada tekanan teman sebaya serta minimnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Tanpa kontrol diri yang kuat, rasa ingin tahu yang tidak terarah mendorong remaja masuk ke jurang risiko. Kasus kehamilan di bangku sekolah yang memaksa siswa berhenti belajar sebelum waktunya adalah “puncak gunung es” dari krisis ini.

Dampaknya tidak hanya menyentuh sisi moral, tetapi juga akademik dan kesehatan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, siswa yang terpapar rokok dan miras menunjukkan penurunan stamina fisik dan konsentrasi belajar yang signifikan. Gaya hidup tidak sehat berbanding lurus dengan merosotnya prestasi akademik. Tubuh yang lemah dan pikiran yang tidak fokus membuat proses belajar kehilangan makna. Dalam jangka panjang, kondisi ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai lost future (kehilangan masa depan) ketika siswa terpaksa keluar dari sekolah dan terjebak dalam lingkaran kemiskinan.

Karena itulah, pendekatan pendidikan tidak bisa lagi berjalan secara parsial. Sebagai guru PJOK, saya mencoba menerapkan strategi “Pendidikan Seksualitas Komprehensif Berbasis Aktivitas Fisik.” Pendidikan kesehatan reproduksi dan bahaya napza tidak hanya diberikan lewat teori, tetapi diintegrasikan dalam setiap sesi pembelajaran, termasuk saat pendinginan setelah olahraga. Saya mengajak siswa memahami bahwa tubuh mereka adalah “modal utama” untuk meraih cita-cita. Konsep yang saya bangun sederhana: “Atlet Masa Depan,” remaja yang menjaga tubuhnya hari ini sedang menabung masa depan mereka.

Baca Juga :  OPINI: Mafia Tanah di Pintu Surga Pariwisata
  • Bagikan